5 Standar Produksi Ubin Taktil Internasional yang Harus Dipenuhi dalam
Dalam membangun infrastruktur publik yang inklusif, menyediakan jalur khusus bagi penyandang disabilitas netra adalah sebuah keharusan. Namun, sekadar memasang material bertekstur saja tidaklah cukup. Untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan pengguna, material tersebut harus diproduksi dengan mengacu pada standar produksi ubin taktil yang diakui, baik secara nasional maupun internasional (seperti ISO 23599).
baca juga : Tinggalkan Cara Lama, Ini Waktunya Beralih ke Kasir Anti Ribet
Jika Anda adalah seorang kontraktor, konsultan perencana, atau developer, memahami standar ini sangat penting agar proyek Anda lolos uji kelaikan fungsi. Berikut adalah 5 standar krusial yang wajib dipenuhi oleh pabrikan.
1. Mutu dan Ketahanan Material (Durability)
Ubin taktil biasanya dipasang di area pedestrian outdoor dengan lalu lintas pejalan kaki yang tinggi. Oleh karena itu, standar produksi ubin taktil yang pertama menyoroti kekuatan material. Untuk material berbasis beton, mutu beton yang digunakan minimal harus mencapai K-150 atau lebih tinggi. Material harus memiliki ketahanan terhadap abrasi (gesekan), perubahan cuaca ekstrem (panas dan hujan), serta tidak mudah retak ketika menahan beban.
2. Dimensi dan Presisi Ukuran
Ukuran ubin harus konsisten agar saat dipasang tidak meninggalkan celah yang membahayakan tongkat penyandang tunanetra atau menyebabkan orang tersandung (trip hazard). Standar umum yang digunakan di Indonesia dan internasional adalah ukuran presisi 30 cm x 30 cm. Ketebalan ubin (biasanya 3 cm hingga 6 cm) juga harus seragam dari satu keping ke keping lainnya untuk memastikan permukaan trotoar tetap rata.
baca juga : Perbandingan Harga Sewa Crane: Mengapa Sewa Lebih Menguntungkan dari Membeli?
3. Profil Tekstur (Tinggi Relief)
Fungsi utama ubin ini ada pada teksturnya. Standar produksi ubin taktil mengatur secara ketat seberapa tinggi tonjolan (relief) pada ubin tipe garis (go) maupun titik (stop).
- Tonjolan tidak boleh terlalu rendah karena tidak akan terasa oleh telapak kaki atau tongkat.
- Tonjolan tidak boleh terlalu tinggi karena bisa membuat pejalan kaki (termasuk pengguna kursi roda atau stroller) tersandung. Secara standar internasional, tinggi ideal tonjolan ini berada di kisaran 4 mm hingga 5 mm dari permukaan dasar ubin.
4. Kontras Warna dan Luminositas
Ubin taktil tidak hanya ditujukan untuk penyandang tunanetra total, tetapi juga bagi mereka yang memiliki kondisi low vision (lemah penglihatan). Oleh sebab itu, warna ubin harus sangat kontras dengan permukaan trotoar di sekitarnya. Warna Kuning Keselamatan (Safety Yellow) adalah standar global yang paling banyak digunakan karena mata manusia paling peka terhadap spektrum warna ini, bahkan dalam kondisi pencahayaan yang minim.
5. Ketahanan Anti-Slip (Slip Resistance)
Poin ini sering kali terabaikan oleh produsen berskala kecil. Permukaan ubin taktil (baik bagian dasar maupun tonjolannya) harus memiliki sifat anti-slip atau tidak licin, terutama saat kondisinya basah terkena air hujan. Jika material terlalu licin, hal ini justru akan menjadi bumerang yang membahayakan keselamatan penyandang disabilitas maupun pejalan kaki lainnya.
Pilih Produsen yang Memenuhi Standar
Memilih supplier material yang tepat adalah kunci kesuksesan proyek infrastruktur Anda. Jangan mengambil risiko dengan menggunakan produk yang spesifikasinya di bawah standar keselamatan.
Kami di GuidingBlock.com selalu berkomitmen untuk mematuhi standar produksi ubin taktil yang ketat. Dengan proses manufaktur kelas pabrik dan Quality Control (QC) yang berlapis, kami menghasilkan ubin beton K-150 yang kuat, presisi, bertekstur ideal, dan berwarna kontras.
Hubungi tim pemasaran kami sekarang juga untuk mendapatkan katalog produk lengkap dan penawaran harga terbaik untuk proyek Anda!
